Total Tayangan Halaman

Kamis, 10 Maret 2011

Pemisahan Campuran Alkohol dengan Gas Chromatography


Pendahuluan
            Gas Chromatography (GC) adalah alat yang digunakan untuk pemisahan suatu zat atau senyawa yang umumnya bersifat volatil. Senyawa volatil merupakan senyawa yang mudah menguap pada suhu kamar. Sampel yang dapat digunakan dalam GC ini ada dua wujud yaitu cair dan gas. Prinsip kerja dari Gas Chromatography yaitu sampel yang diinjeksikan ke dalam aliran fase gerak, kemudian akan dibawa oleh fase gerak  yang berupa gas inert ke dalam kolom untuk dilakukan pemisahan komponen sampel berdasarkan kemampuannya interaksi diantara fase gerak dan fase diam. Pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak dan fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat dan penunjangnya (Khopkar 2007).
            Alat GLC atau GC terdiri atas 4 bagian yang pokok seperti pada gambar, yaitu injector, kolom pemisah, detector, dan recorder untuk mencatat kromatogram. Seperti gambar berikut :


Gambar 1 Bagian-bagian umum Gas Chromatography

Gas pengangkut (carrier gas) ditempatkan dalam silinder bertekanan tinggi. Umumnya  tekanan dari silinder sebesar 150 atm. Namun tekanan ini sangat besar untuk digunakan secara langsung. Digunakan gas pengangkut dengan syarat harus inert, tidak bereaksi dengan sampel, analat - pelarut, dan material dalam kolom, harus murni, sesuai/cocok untuk detector, difusi gas kecil. Gas-gas yang sering dipakai meliputi nitrogen, argon, helium, karbon dioksida dan hidrogen.

            Contoh senyawa volatil yang dapat dipisahkan yaitu alkohol. Alkohol merupakan senyawa volatil yang mudah menguap, sehingga pada pemisahnya dapat digunakan dengan metode kromatografi gas berdasarkan pada besar kecilnya titik didih yang berbanding lurus dengan bobot molekul sehingga semakin besar titik didih suatu senyawa pada pemisahan dengan kromatografi gas, maka waktu retensinya semakin lama serta sebaliknya semakin kecil titik didih suatu senyawa pada pemisahan dengan kromatografi gas, maka retensinya akan semakin cepat. Berdasarkan literatur didapatkan titik didih senyawa alkohol yaitu metanol 650C, etanol 78,50C, n-propanol 970C,  dan butanol 137-139℃ (Hart 2003).

Tujuan
            Praktikum bertujuan melakukan pemisahan campuran alkohol dan mengidentifikasikannya dengan metode Chromatography Gas.

Prosedur Kerja
Mula-mula disiapkan sampel dan pelarutnya yang telah dimurnikan. Kemudian dihidupkan power “on” pada alat. pada display alat akan keluar perintah “press any key to connect the network”, ditekan tombol “stop” untuk mengaktifkan alat GC, sementara itu diputar keran gas N2, H2, dan O2 dan atur aliran gasnya sesuai dengan yang dibutuhkan dihidupkan juga komputer dan diaktifkan software GC solution di komputer.  Setelah alat GC aktif, atur suhu injektor, kolom dan detektornya. Atur juga aliran gas N2, H2 dan O2 yang masuk ke alat GC. Atur juga pergerakan suhu kolom sesuai dengan sampel yang akan dirunning. Ditunggu sampai suhu injektor dan detektor mancapai suhu yang diinginkan. Sementara itu masukkan sampel yang akan diukur ke dalam “syringe”.
Setelah suhu tercapai dan lampu “run” hidup, maka sampel yang ada dalam “syringe” dapat disuntikkan ke dalam injector. Ditunggu dan dilihat kromatogram yang ada pada layar computer.  Setelah semua sampel yang disuntikkan selesai dirunning dan waktu yang diprogram selesai, maka alat GC akan berhenti secara otomatis dan suhu kolom akan diturunkan ke posisi awal secara otomatis juga. Kromatogram yang diperoleh di layar komputer dapat di-set, seperti membuat waktu retensi, persentase komponen yang ada dalam sampel dan lain-lain, sesuai data yang diinginkan. Disimpan di memory komputer atau dapat langsung di cetak. Setelah suhu kolom kembali ke awal, maka pengaturan suhu dapat di “off” kan. Ditunggu sampai suhu injektor dan detektornya turun sampai posisi awal. Sementara itu ditutup keran N2, H2 dan O2. Setelah suhu injektor dan detektor turun dan gas tidak mengalir lagi, alat GC dapat di “off” kan, dan komputer juga dapat dimatikan.dibersihkan alat dan “syringe” yang telah digunakan.
Data dan Hasil Pengamatan





Gambar 2 kromatogram campuran alkohol
Tabel 1 Kromatogram pemisahan campuran alkohol
Cmpd Name
Peak#
Ret. Time
Area
Height
Conc.

1
1.540
1018
285
0.000

2
1.879
132628
19427
0.000

3
2.083
36067202
3997325
0.000

4
2.599
33389038
4365096
0.000

5
3.141
727
368
0.000

6
3.225
578
339
0.000

7
3.281
127
181
0.000

8
3.412
3887
963
0.000

9
3.505
5906
1218
0.000

10
3.589
2585
1029
0.000

11
3.636
2344
840
0.000

12
3.720
4209
838
0.000

13
3.822
1207
612
0.000

14
4.087
5875
1436
0.000

15
4.196
13005
2300
0.000

16
4.298
13834
3354
0.000

17
4.335
8041
3663
0.000

18
4.373
9925
3999
0.000

19
4.464
26769
5115
0.000

20
4.541
22160
5696
0.000

21
4.648
44764
7101
0.000

22
4.699
18640
7538
0.000

23
4.793
65431
8982
0.000

24
4.914
65071
10624
0.000

25
4.991
54610
11377
0.000

26
5.078
66735
11485
0.000

27
5.195
65400
10415
0.000

28
5.278
30613
10263
0.000

29
5.318
28238
10529
0.000

30
5.372
39775
9972
0.000

31
5.488
54442
9241
0.000

32
5.540
18485
8390
0.000

33
5.578
29900
8727
0.000

34
5.665
34292
7826
0.000

35
5.707
20625
7227
0.000

36
5.792
39512
6286
0.000

37
5.875
11102
5129
0.000

38
5.913
25682
5091
0.000

39
6.022
8426
3075
0.000
Total


70432808
8573362
0.000

Pembahasan
            Pada dasarnya, dalam alat kromatografi gas, ada dua jenis detector, yang pertama adalah Flame Ionization Detector, dan yang kedua adalah Thermal Conductivity Detector. Namun, untuk praktikum kali ini, jenis detector yang dipakai adalah Flame Ionization Detector. Fasa diam yang dipakai adalah metal silicon gum. Gas yang digunakan sebagai gas pembanding dan gas pembawa adalah gas nitrogen karena di samping nitrogen cenderung murah jika dibandingkan dengan jenis gas yang lain, nitrogen juga inert, aman (dibandingkan dengan gas lain yang mudah terbakar), dan mudah didapat.
            Kromatografi gas adalah cara pemisahan kromatografi menggunakan gas sebagai fasa penggeraknya. Zat yang dipisahkan dilewatkan dalam kolom yang diisi dengan fasa tidak bergerak yang terdiri dari bahan terbagi halus yang cocok. Gas pembawa mengalir melalui kolom dengan kecepatan tetap, memisahkan zat dalam gas atau cairan, atau dalam bentuk padat pada keadaan normal. Cara ini digunakan untuk percobaan identifikasi dan kemurnian, atau untuk penetapan kadar. Pada percobaan kali ini dilakukan untuk memisahkan campuran alkohol pada sampel.
Percobaan ini dilihat berdasarkan tiga faktor antara lain waktu retensi relatif, suhu, dan laju alir. Waktu retensi merupakan waktu yang dibutuhkan oleh senyawa yang diinjeksikan sejak injeksi melalui kolom hingga kedetektor. Waktu retensi tersebut dapat dilihat saat tampilan menunjukan tinggi puncak maksimum untuk komponen yang terpisah. Waktu retensi tersebut yang dihasilkan berdasarkan titik didih komponen itu, yang mendidih pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kolom akan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk berkondensasi sebagai cairan pada awal kolom. Dengan demikian, titik didih yang lebih besar akan memiliki waktu retensi yang lebih lama. Waktu retensi ternyata juga berdasarkan kelarutan dalam fase air, senyawa yang lebih mudah larut dalam fase cair berarti memiliki waktu retensi yang lama. Temperatur kolom yang tinggi akan mempersingkat waktu retensi untuk segala sesuatunya didalam kolom. Waktu retensi relatif adalah membandingkan dengan zat pembanding pada kondisi yang sama. (Underwood 1986).
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, pemisahan senyawa alkohol dengan gas kromatografi menghasilkan dua peak. Peak pertama memiliki waktu retensi sebesar 2,083 menit dengan luas area peak sebesar 36067202 dengan ketinggian peaknya sebesar 3997325. Sedangkan, peak kedua memiliki waktu retensi 2,599 menit dengan luas area peak sebesar 33389038 dengan ketinggian peak sebesar 4365096. Berdasarkan literatur, waktu retensi yang dihasilkan senyawa alkohol pada pemisahan merupakan butanol dan metanol.

Hal tersebut dapat diketahui karena pada metanol memiliki waktu retensi sebesar 2,125 menit dan butanol memiliki waktu retensi sebesar 2,754 menit. Perbedaan waktu retensi yang dihasilkan tiap-tiap komponen alkohol dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: titik didih masing-masing komponen, massa molekul relative (Mr), ukuran komponen, dan interaksi masing-masing komponen dengan fasa diam contohnya  sifat kepolaran antara fasa diam dengan fasa geraknya. Berdasarkan kromatogram yang didapat dari hasil percobaan waktu retensi butanol paling besar daripada metanol. Hal ini diakibatkan oleh titik didihnya yang lebih besar, selain itu dipengaruhi oleh suhu dan kelarutannya.
 Berdasarkan kromatogram, didapat jumlah intensitas masing-masing komponen yang berbeda ketinggiannya, hal ini menandakan konsenterasi komponennya juga berbeda. Konsenterasi pada peak yang kedualah yang lebih pekat. Pada percobaan kali ini, jika kita memperhatikan hasil cetakan dari alat kromatografi gas, kita dapat melihat adanya puncak puncak kecil. Pada kromatogram tidak tampak karena hasil kromatogram sudah dibesarkan skalanya. Namun jika diperkecil mendetail lagi pasti akan terlihat peak-peak kecil yang dapat dilihat pada tabel kromatogram besarnya.
 Puncak-puncak kecil itu adalah pengotor, baik itu pengotor yang ada di dalam kolom yang akhirnya terbaca oleh detector, maupun pengotor yang ada di dalam senyawa (terbawa oleh senyawa ketika penyuntikkan). Seharusnya, tidak ada pengotor di dalam kita melakukan suatu analisis terhadap suatu sampel atau suatu senyawa. Hasil yang paling ideal adalah ketika yang dihasilkan adalah suatu garis lurus yang ada pada base yang diikuti oleh puncak-puncak yang cukup significant yang menunjukkan komponen utama dari senyawa tersebut.

Simpulan
            Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa senyawa yang terdapat pada sampel campuran alkohol ialah metanol dengan waktu retensi sebesar 2,083 menit dan butanol dengan waktu retensi sebesar 2,599 menit.

Daftar Pustaka
Hart C. 2003. Kimia Organik. Suminar. Penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Organic Chemistry.
Khopkar SM. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Saptorahardjo A. Penerjemah. Jakarta:    UI-Press. Terjemahan dari: Basic Concepts Of Chemistry Analytical.
Underwood AL and RA Day JR. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Sopyan Lis. Penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Quantitative Analysis Sixth Edition.



Laporan Biokimia Mineral

Wahyoe_wewe









Pendahuluan
         Semua mahluk hidup memerlukan unsur anorganik atau mineral untuk proses kehidupan yang normal. Semua jaringan ternak dan makanan atau pakan mengandung mineral dalam jumlah dan proporsi yang sangat beragam. Mineral adalah bahan anorganik atau bahan kimia yang didapat makhluk dari alam, yang asalnya ialah dari tanah. Mineral ada yang larut dalam air lalu masuk tubuh lewat air minum atau air yang dipakai untuk mencuci sayur dan memasak. Mineral masuk ke dalam tubuh dalam bentuk garam lalu digunakan dalam bentuk elektrolit. Elektrolit adalah bentuk ion dari mineral yang bermuatan positif (+) dan negatif (-), ada sebagian mineral yang dipakai sel sebagai poros atau inti suatu molekul, ada pula yang dipakai untuk menghubungkan suatu cabang ke cabang yang lain. Mineral yang masuk kedalam tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi oleh dinding usus. Makanan yang masuk kedalam tubuh terdiri dari bahan organik dan air sebesar 96 % dan sisanya terdiri dari unsur mineral. Mineral dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu, dalam proses pembakaran, bahan-bahan organik terbakar, tetapi zat anorganik tidak terbakar, karena itu bahan anorganik disebut abu (Winarno 1992).


Gambar 1 struktur umum mineral

         Banyak unsur mineral yang sangat dibutuhkan tubuh yang berbeda jenisnya yang diperlukan manusia agar memiliki kesehatan dan pertumbuhan yang optimal. Mineral yang digunakan oleh tubuh ialah Fe (ferum, zat besi), Ca (calsium, zat kapur), Na (natrium), K (kalium), Cl (chlor), Mg (magnesium), P (phosphor, fosfor), S (sulfur, belerang), Zn (zink, seng), I (iodium), F (flor), Co (cobalt) dan St (strontium). Beberapa mineral merupakan elemen anorganik yang dibutuhkan oleh ternak untuk pertumbuhan dan reproduksi, walaupun jumlah yang dibutuhkan hanya sedikit, keseimbangan dalam tubuh harus tetap terjaga. Berdasarkan kegunaannya dalam aktifitasnya hidup, mineral dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu golongan essensial dan non essensial, sedangkan berdasarkan jumlahnya, mineral dapat pula dibagi atas mineral makro, mineral mikro dan mineral renik (Parakasi 1986).
          Kelompok makro terdiri dari unsur – unsur Ca, P, K, Na, Mg dan S. kelompok mikro terdiri dari Fe, I, Cu, Zn, Mn, Co dan Se, sedangkan kelompok renik terdiri dari unsur F, Mo, As, Cr, Si dan lain – lain. Beberapa unsur mineral ini ada yang termasuk golongan racun dan biasanya masih terdapat di dalam sel hayati meskipun jumlahnya sngat kecil sekali, contoh unsure tersebut adalah Ag, Hg dan Pb. Fungsi mineral secara umum dibagi menjadi 4 macam, yaitu untuk pembentukan struktur, untuk fungsi fisiologis, sebagai katalis dan sebagai regulator. Kandungan pakan mineral dari bahan pakan nabati sangat bervariasi tergantung dari beberapa faktor, seperti genetik tanaman, keadaan tanaman tempat tumbuh tanaman tersebut, iklim, musim, tahap kematangan, dan ada tidaknya pemupukan terhadap tanaman. Leguminosa biasanya kaya akan mineral Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, dan Co. Rumput-rumputan banyak mengandung mineral Mg, Zn, dan Fe.
          Penetapan jenis dan jumlah mineral di dalam suatu bahan hayati dilakukan dengan cara pengabuan. Pembakaran akan menghancurkan senyawa – senyawa organik ke dalam bentuk gas yang mudah terbang. Mineral sebagai senyawa organik akan tertinggal di dalam bentuk abu yang dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Tulang yang terdiri dari air, bahan organi dan bahan anorganik. Pemanasan tulang pada suhu 400o C akan menyebabkan air serta bahan organic menguap, sisanya di dalam abu terdiri dari bahan anorganik untuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Perendaman tulang dalam larutan asam atau pemanasan tulang dalam air akan menyebabkan terlarutnya bahan organik, sisanya yang berbentuk matriks terdiri dari air dan bahan organik. Praktikum ini percobaan untuk uji mineral bahan abu tulang yang akan diujikan tidak tersedia, untuk itu bahan yang digunakan ialah suplemen supradyn. Uji mineral ini dilakukan terhadap pengujian filtrat dan pengendapan. Pengujian filtrat terdiri dari uji klorida dan uji sulfat, sedangkan pengujian pengendapan teridiri dari uji kalsium, fosfat, magnesium dan besi.


Tujuan
Praktikum bertujuan mengetahui kadar mineral pada suplemen supradyn

Alat dan bahan
         Alat-alat yang digunakan ialah gelas piala,tabung reaksi,kaki tiga,Bunsen,neraca analitik,batang pengaduk,mortar,corong,Erlenmeyer.
Bahan-bahan yang digunakan ialah suplemen supradyn,〖NH〗_4 OH pekat,HCl 10%,akuades,Kristal dinatrium hydrogen fosfat,asam asetat 10%, urea 10%,pereaksi ferosulfat khusus,Kristal ammonium klorida,larutan ammonium tiosianat,〖HNO〗_3,10%,〖AgNO〗_3 2%,〖BaCl〗_2,larutan kalium ferosianida,ammonium oksalat 1%,pereaksi molibdat khusus,Kristal ammonium karbonat,〖NH〗_4 OH 10%,kertas lakmus

Prosedur percobaan
          Pembuatan sampel digunakan suplemen supradyn,digerus halus didalam mortar,pindahkan kedalam gelas piala dan diencerkan,lanjutkan dengan penyaringan dan tambahkan ,〖NH〗_4 OH pekat kedalam filtrate sampai bereaksi basa.terbentuknya endapan putih menunjukan adanya fosfat,dilakukan kembali penyaringan,filtrat dan endapan dipisahkan.
Pengujian filtrat dengan uji klorida,sebagian filtrat diasamkan dengan larutan 〖HNO〗_3,10%,didalam filtrat ditambahkan larutan 〖AgNO〗_3 2%, terbentuknya endapan putih ditunjukan dengan adanya klor. Pengujian filtrat dengan uji sulfat ,sebagian filtrat diasamkan dengan larutan HCl 10%,filtrat asam tersebut ditambahkan dengan larutan 〖BaCl〗_2 ,terbentuknya endapan putih ditunjukan adanya sulfat.
Pengujian endapan,ditambahkan larutan asam asetat 10% pada endapan yang terdapat pada kertas saring (sisa endapan yang tidak larut jangan dibuang karena untuk pengujian besi.ditempatkan filtrat asam hasil pencucian endapan didalam tabung reaksi disesuaikan jumlahnya untuk pengujian.
Pengujian endapan dengan uji kalsium,didalam 2mL filtrat ditambahkan 1mL ammonium oksalat 1%,adanya kalsium dengan ditunjukannya endapan putih.
          Pengujian endapan dengan uji fosfat,didalam 1 mL filtrat ditambahkan 1 mL urea 10% dan pereaksi molibdat khusus,dicampurkan dengan rata,kemudian ditambahkan 1mL larutan ferosulfat khusus.adanya fosfat,ditunjukan dengan pembentukan warna biru pada larutan semakin lama semakin pekat.
          Pengujian endapan dengan uji magnesium,sisa filtrat dipanaskan sampai mendidih,didalam filtrat panas tersebut,ditambahkan sedikit demi sedikit Kristal ammonium karbonat dan ammonium klorida (lakukan penambahan selama endapan terbentuk),endapan yang terbentuk disaring,didalam filtrat ditambahkan Kristal dinatrium hydrogen fosfat dan larutan ammonium hidroksida sampai basa.adanya magnesium ditunjukan dengan adanya endapan putih yang terbentuk.
           Pengujian endapan dengan uji besi, ditambahkan sedikit larutan HCl 10% pada endapan yang tidak larut dalam asam asetat dikertas saring,ditempatkan filtrat asam klorida kedalam 1mL larutan ammonium tiosianat dan perhatikan terbentuknya warna merah.didalam filtrat satu lagi ditambahkan 1mL kalium ferosianida dan perhatikan terbentuknya warna biru atau hijau,adanya besi ditunjukan dengan terbentuknya warna merah atau biru.


Data dan hasil pengamatan
Table 1 hasil uji mineral pada suplemen supradyn
Jenis uji Hasil pengamatan (+/) Perubahan warna larutan
Uji klorida - Kuning menjadi warna perak
Uji sulfat - Kuning menjadi kuning
Uji kalsium + Kuning muda menjadi kuning tua
Uji fosfat - Kuning menjadi hijau
Uji magnesium + Kuning menjadi tidak berwarna
Uji besi + Tidak berwarna menjadi merah muda (ammonium tiosianat)
Tidak berwarna menjadi hijau (kalium ferosianida)


Gambar 2 Hasil uji besi

Gambar 3 Hasil uji fosfat

Gambar 4 Hasil uji kalsium

Gambar 5 Hasil uji magnesium

Gambar 6 hasil uji sulfat dan klorida

Pembahasan
          Uji mineral yang dilakukan pada percobaan ini tidak menggunakan bahan yang berasal dari proses pengabuan, melainkan menggunakan bahan suplemen supradin. Satu buah tablet supradyn yang ditambahkan dengan air dan NH4OH akan disaring, kemudian dari hasil penyaringan tersebut diperoleh filtrat dan endapan yang akan digunakan untuk proses uji mineral selanjutnya. Pengujian terhadap filtrat dilakukan untuk uji klorida dan sulfat, sedangkan pengujian pengendapan dilakukan untuk uji kalsium, fosfat, magnesium dan besi.kadar mineral pada suplemen supradyn yaitu kalsium 50 mg, magnesium 5 mg, besi 1,25 mg, mangan 0,5 mg, fosfor 4,5 mg, tembaga 0,1 mg, dan seng 0,5 mg. oleh karena itu dari semua uji seharusnya yang teruji positif yaitu kalsium,magnesium dan besi
          Uji klorida pada filtrat menunjukan hasil positif jika menghasilkan endapan putih. Pereaksi asam nitrat yang digunakan dalam uji klorida sebagai katalisator, dan AgNO3 akan bereaksi dengan klorida membentuk AgCl sebagai endapan putih, maka dari itu adanya endapan putih yang dibentuk membuktikan adannya klorida, berikut reaksi yang terjadi pada uji klorida :
                                                     AgNO3 → AgCl + NO3-

          Berdasarkan hasil percobaan, pada uji klorida menunjukan hasil negatif dengan menghasilkan warna cermin perak pada larutan. Hal tersebut dapat terjadi karena pada suplemen supradin yang digunakan tidak mengandung klorida.
          Uji sulfat pada filtrat menunjukan hasil positif dengan menghasilkan endapan putih. Asam klorida yang dipakai dalam uji sulfat juga bertindak sebagai katalisator dan barium klorida akan bereaksi bila ada sulfat membentuk barium sulfat, berikut reaksi yang terjadi pada uji klorida :
                                                     AgNO3 → AgCl + NO3-.

          Berdasarkan hasil percobaan, pada uji sulfat menunjukan hasil negatif dengan menghasilkan warna kuning pada larutan. Hal tersebut dapat terjadi karena pada suplemen supradyn yang digunakan juga tidak mengandung sulfat.
          Endapan yang dihasilkan dari uji sebelumnya diuji dengan kalsium, fosfat dan magnesium. Endapan yang diuji diberi penambahan asam asetat untuk melarutkan kalsium, magnesium, dan fosfat, sedangkan endapan yang terbentuk dari sisa penambahan asam akan diuji terhadap besi. Kalsium yang terdapat dalam tubuh terdapat pada plasma darah, sebagian dalam bentuk ion, dan sebagian lagi bergabung dengan protein. Kalsium berguna untuk membentuk tulang dan gigi. Peranannya yang sangat penting ialah untuk membantu otot berkontraksi dan rileks. Kalsium juga berperan dalam proses pembekuan darah dan pembekuan susu. Penyerapan kalsium berkaitan dengan bebutuhan tubuh dan adanya fosfor, vitamin D, laktosa, dan vitamin C (Suhardjo 1986 ). Uji kalsium pada percobaan ini menunjukan hasil positif dengan menghasilkan endapan putih. Penambahan pereaksi amonium oksalat akan bereaksi dengan kalsium yang ada difiltrat tersebut. Endapan yang dihasilkan adalah kalsium oksalat. Reaksi yang terjadi :
                                          Ca + K4[Fe(CN)6] → Fe4[Fe2(CN)6]3

            Uji fosfat pada endapan akan menunjukan hasil positif jika menghasilkan warna biru dan pembentukan warna biru makin yang pekat menunjukan adanya fosfat, tetapi berdasarkan hasil percobaan menunjukan hasil negatif dengan terbentuknya warna hijau muda dan hal tersebut menunjukan bahwa suplemen supradin yang digunakan tidak mengandung mineral fosfat. Peranan fosfor dalam tubuh sama seperti kalsium, yaitu untuk pembentukan tulang dan gigi serta penyimpanan dan pengeluaran energi (perubahan antara ATP dengan ADP). Seseorang yang kekurangan unsur ini maka pembentukan ATP akan terganggu, selain itu pembentukan tulang rawan akan terganggu. Berikut reaksi yang terjadi pada uji fosfat :
                                          FeSO4 + PO4-3 → Fe3(PO4)2 + SO4-2 

               Magnesium merupakan mineral makro yang sangat penting, sekitar 70% dari total Mg dalam tubuh terdapat dalam tulang atau kerangka (Underwood 1981), sedangkan 30% lainnya tersebar dalam berbagai cairan tubuh dan jaringan lunak (Tillman 2003). Mg dibutuhkan oleh sebagian besar sistem enzim, berperan dalam metabolisme karbohidrat dan dibutuhkan untuk memperbaiki fungsi sistem saraf (Perry 2000 ), selain itu Mg berperan penting untuk sintesis protein, asam nukleat, nukleotida, dan lipid (Girindra 1988). Uji magnesium pada percobaan menunjukan hasil positif dengan terbentuknya endapan, endapan tersebut disaring dan ditambahkan kristal dinatriun hidrogen fosfat dengn larutan amonium hidroksida sehingga akan menghasilkan endapan putih. Endapan putih tersebut menunjukkan adanya magnesium, berikut ini reaksi yang terjadi pada uji magnesium :
                                          Mg + NaHPO4 → MgHPO4 +2Na.
             Uji besi pada percobaan ini dilakukan terhadap endapan yang terbentuk dari sisa penambahan asam yang kemudian ditambahkan dengan larutan HCl. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan endapan tersebut di uji dengan larutan ammonium tiosianat dan kalium ferosianida. Filtrat yang diuji dengan ammonium tiosianat akan menunjukan hasil positif jika terbentuk warna merah, sedangkan dengan kalium ferosianida akan menunjukan hasil positif jika terbentuk warna biru atau hijau. Berdasarkan hasil percobaan pada uji besi ini, filtrat yang ditambahkan dengan amonium tiosianat menunjukan hasil positif dengan terbentuknya warna merah muda, begitu juga dengan filtrat yang ditambahkan kalium ferosianida juga menunjukan hasil positif dengan terbentuknya warna hijau. Fungsi Fe yang penting adalah untuk absorpsi dan transport O2 ke dalam sel-sel, Fe juga merupakan komponen yang aktif dari beberapa enzim yaitu sitokrom perioksidase dan katalase. Selain itu Fe berfungsi sebagai mediator proses–proses oksidasi (Tillman 1998). Unsur Fe diabsorpsi sesuai dengan kebutuhan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti status Fe dalam tubuh, umur hewan (Underwood 1999), kebutuhan metabolik tubuh, bentuk komponen zat besi yang terdapat dalam makanan dan ada tidaknya zat-zat nutrisi lain yang mempengaruhi absorpsi zat besi (Piliang 2002). Tempat absorpsi Fe pertama adalah duodenum (Underwood 1999).

Simpulan
           Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa kandungan mineral yang terdapat dalam suplemen supradyn ialah kalsium, magnesium dan besi, karena ketiga unsur mineral tersebut menunjukan hasil positif terhadap uji mineral ini dengan terbentuknya endapan putih pada uji kalsium dan magnesium, sedangkan pada uji besi terbentuk warna merah muda untuk penambahan ammonium tiosianat dan warna hijau untuk penambahan kalium ferosianida.

Daftar Pustaka
Girindra, A. 1998. Biokimia Patologi Hewan. Bogor : Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor
Parakkasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogarstrik Vol IB . Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Perry, T. W, A. E. Cullison and R.S. Lowrey. 2003. Feeds and Feeding. Sixth Edition. New Jersey : Pearson Education Inc Upper Saddle River
Piliang, W. G. 2002. Nutrisi Mineral. Edisi Kelima. Bogor : Institut Pertanian Bogor
Suharjdo. 1886. Pangan, Gizi, dan Pertanian. Jakarta : Universitas Indonesia
Tillman, A. D., H. Hartadi, S Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosukujo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan Ke- 6. Fakultas Peternakan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta Gadjah Mada University Press
Underwood, E. J. and N. F. Suttle. 1999. The Mineral Nutrition of Livestock Third Edition. London : CABI Publishing
Winarno F.G.1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama